Cacatan Redaksi Suarabernas.com
SUNGAIPENUH,Suarabernas.com – Membangun sebuah daerah bukan hanya tentang mempercantik wajah kota, mendirikan gedung megah, atau membangun infrastruktur dengan anggaran miliaran rupiah. Lebih dari itu, pembangunan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, memperkuat ekonomi daerah, serta menghadirkan kepedulian terhadap warga yang membutuhkan.
Itulah gambaran sejumlah upaya yang terus dilakukan Pemerintah Kota Sungai Penuh di bawah kepemimpinan Wali Kota Alfin, S.H., bersama Wakil Wali Kota Azhar Hamzah.
Sejak memimpin Kota Sungai Penuh, pasangan Alfin–Azhar berupaya melakukan pembenahan di berbagai sektor. Mulai dari penataan wajah kota, perbaikan tata kelola pemerintahan dan kepegawaian, penguatan kepedulian sosial, hingga mendorong pembangunan infrastruktur strategis yang diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi jangka panjang.
Salah satu program yang menarik perhatian adalah Gerakan 3S, yakni Segenggam Beras, Sebutir Telur, dan Seribu Rupiah.
Sekilas, gerakan ini terlihat sederhana. Segenggam beras bukanlah jumlah yang besar, sebutir telur mungkin hanya cukup untuk sekali konsumsi, sementara seribu rupiah bukan nilai uang yang fantastis.
Namun, di balik kesederhanaan tersebut terdapat pesan besar tentang kepedulian dan semangat gotong royong.
Ketika kontribusi kecil dikumpulkan dari banyak orang, kemudian disalurkan kepada keluarga yang membutuhkan, sesuatu yang sederhana dapat berubah menjadi kekuatan sosial yang memberikan manfaat nyata.
3S, Ketika Kepedulian Menjadi Gerakan Bersama
Gerakan 3S menjadi salah satu pendekatan pemerintah dalam membantu masyarakat kurang mampu, khususnya kelompok rentan yang membutuhkan perhatian terhadap pemenuhan pangan dan gizi.
Sasarannya mencakup balita stunting, balita berisiko stunting, keluarga berisiko stunting, ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis, hingga masyarakat miskin ekstrem.
Berdasarkan data yang disampaikan Wali Kota Alfin pada Oktober 2026, bantuan melalui Gerakan 3S telah menjangkau lebih dari 500 keluarga kurang mampu.
Angka tersebut menunjukkan bahwa gerakan berbasis kepedulian sosial ini telah memiliki jangkauan penerima manfaat yang cukup luas.
Namun, nilai Gerakan 3S sesungguhnya bukan hanya terletak pada jumlah beras, telur, maupun uang yang terkumpul. Lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa persoalan sosial bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat.
Kita juga harus memahami bahwa persoalan stunting tidak cukup diselesaikan hanya dengan bantuan beras dan telur. Dibutuhkan intervensi kesehatan, edukasi gizi, sanitasi yang layak, pola asuh yang baik, serta pendampingan keluarga secara berkelanjutan.
Karena itu, Gerakan 3S perlu terus diperkuat melalui pendataan penerima yang akurat, transparansi penyaluran, dan evaluasi dampak program.
Penghargaan Pemimpin Daerah Award 2026 kategori Apresiasi Inovasi Daerah yang diterima Pemerintah Kota Sungai Penuh turut menjadi pengakuan atas upaya membangun inovasi sosial tersebut.
Tetapi penghargaan bukanlah garis akhir. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya.
Pembangunan Pasar dan Rumah Sakit, Bukan Sekadar Proyek Fisik
Di sisi lain, pembangunan daerah juga tidak bisa hanya bertumpu pada program bantuan sosial. Pemerintah harus mampu memperkuat fondasi ekonomi dan meningkatkan kapasitas keuangan daerah.
Dalam konteks tersebut, pembangunan Pasar Beringin Jaya dan pengembangan RSUD Mayjen H.A. Thalib menjadi dua proyek strategis yang patut mendapat perhatian.
Pembangunan Pasar Beringin Jaya dengan nilai kontrak sekitar Rp46,8 miliar diharapkan mampu menjadi pusat aktivitas perdagangan yang lebih representatif, tertata, dan nyaman bagi pedagang maupun masyarakat.
Pasar bukan sekadar tempat transaksi jual beli. Jika dikelola secara profesional, pasar dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat, membuka peluang usaha, meningkatkan aktivitas perdagangan, serta memperluas potensi penerimaan daerah melalui retribusi dan sumber pendapatan sah lainnya.
Namun, pembangunan fisik saja tidak otomatis meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pemerintah perlu memastikan pasar beroperasi secara optimal, tingkat keterisian kios terjaga, pedagang mendapatkan kepastian tempat usaha, serta pengelolaan retribusi dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Dengan demikian, Pasar Beringin Jaya tidak hanya menjadi bangunan baru, tetapi benar-benar menjadi aset produktif bagi Kota Sungai Penuh.
Hal serupa juga berlaku pada pengembangan RSUD Mayjen H.A. Thalib.
Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan publik yang memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Pengembangannya diharapkan mampu meningkatkan kapasitas pelayanan, memperbaiki fasilitas medis, dan memberikan akses kesehatan yang semakin baik.
Di sisi lain, rumah sakit yang dikelola secara sehat dan profesional juga berpotensi memperkuat pendapatan dari layanan kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.
Artinya, pembangunan pasar dan rumah sakit memiliki dua kepentingan sekaligus: meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat serta memperkuat potensi ekonomi daerah.
Meski demikian, pemerintah harus memastikan seluruh pembangunan tersebut berjalan sesuai perencanaan, tepat waktu, berkualitas, dan memberikan manfaat yang terukur.
Sebab, proyek bernilai miliaran rupiah pada akhirnya harus dibuktikan dengan hasil, bukan sekadar angka dalam dokumen anggaran.
PAD Menjadi Tantangan Besar Kemandirian Daerah
Salah satu pekerjaan rumah pemerintah daerah adalah bagaimana meningkatkan PAD agar pembangunan tidak terus-menerus bergantung pada transfer pemerintah pusat.
Kemandirian fiskal merupakan modal penting bagi daerah untuk menentukan arah pembangunan sesuai kebutuhan masyarakatnya.
Karena itu, upaya Alfin–Azhar dalam mendorong pembangunan dan memperjuangkan dukungan anggaran dari kementerian patut dilihat sebagai bagian dari strategi mempercepat pembangunan Kota Sungai Penuh.
Kunjungan dan komunikasi ke kementerian bukan sekadar agenda seremonial apabila mampu menghasilkan dukungan program, bantuan pembangunan, maupun alokasi anggaran yang benar-benar dibutuhkan daerah.
Di tengah keterbatasan kemampuan keuangan daerah, dukungan pemerintah pusat menjadi salah satu peluang untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Namun, perjuangan memperoleh bantuan pusat harus berjalan beriringan dengan pembenahan potensi PAD sendiri.
Pemerintah perlu menggali sumber pendapatan yang selama ini belum optimal, memperbaiki sistem pengelolaan aset daerah, meningkatkan kepatuhan wajib pajak dan retribusi, serta menciptakan iklim usaha yang sehat bagi para investor.
Dengan begitu, pembangunan tidak hanya bergantung pada seberapa besar anggaran yang berhasil dibawa dari pusat, tetapi juga seberapa kuat kemampuan daerah mengelola potensi ekonominya sendiri.
Menata Kota, Membenahi Pemerintahan
Pembangunan yang baik juga membutuhkan pemerintahan yang tertib, profesional, dan memiliki orientasi pelayanan.
Pembenahan sektor kepegawaian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan pemerintahan Alfin–Azhar.
Sebab, program pembangunan sehebat apa pun tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan aparatur yang memiliki kompetensi, disiplin, integritas, dan tanggung jawab.
Penataan birokrasi harus mampu menciptakan budaya kerja yang lebih produktif. Jabatan harus diisi berdasarkan kompetensi, pelayanan publik harus semakin baik, dan setiap perangkat daerah harus memiliki target kerja yang jelas.
Pada saat yang sama, penataan wajah Kota Sungai Penuh juga perlu dilakukan secara konsisten agar kota semakin tertib, bersih, nyaman, dan memiliki daya tarik sebagai pusat aktivitas ekonomi maupun pemerintahan.
Dengan demikian, pembangunan bukan hanya terlihat dari bangunan yang berdiri, tetapi juga dari perubahan kualitas pelayanan dan kenyamanan hidup masyarakat.
Alfin–Azhar dan Pekerjaan Besar yang Menanti
Kepemimpinan Alfin–Azhar tentu masih menghadapi berbagai tantangan. Persoalan infrastruktur, pelayanan publik, peningkatan PAD, pengentasan kemiskinan, hingga pemerataan pembangunan membutuhkan kerja yang konsisten dan terukur.
Gerakan 3S harus dijaga keberlanjutannya. Pasar Beringin Jaya harus dipastikan memberikan dampak ekonomi. Pengembangan RSUD Mayjen H.A. Thalib harus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Sementara upaya memperjuangkan dukungan pemerintah pusat perlu menghasilkan program nyata bagi masyarakat.
Semua itu membutuhkan pengawasan, keterbukaan informasi, dan evaluasi agar setiap kebijakan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa sering melakukan kunjungan ke kementerian, seberapa banyak penghargaan yang diterima, atau seberapa besar nilai proyek pembangunan yang diumumkan.
Ukuran sesungguhnya adalah perubahan yang dirasakan masyarakat.
Apakah ekonomi warga semakin bergerak? Apakah pelayanan kesehatan semakin baik?
Apakah masyarakat kecil semakin terbantu? Apakah PAD meningkat? Dan apakah wajah Kota Sungai Penuh semakin tertata?
Itulah pertanyaan yang harus dijawab melalui kerja nyata.
Dari segenggam beras, sebutir telur, dan seribu rupiah, pemerintah membangun semangat kepedulian. Dari pembangunan pasar dan rumah sakit, pemerintah berupaya memperkuat pelayanan serta ekonomi daerah. Sementara melalui perjuangan ke pemerintah pusat, terbuka peluang untuk mempercepat pembangunan.
Ketiganya merupakan bagian dari satu cita-cita besar, membawa Kota Sungai Penuh menjadi daerah yang lebih maju, mandiri, tertata, dan sejahtera.
Sebab, kota yang hebat bukan hanya kota dengan bangunan megah dan jalan yang indah, tetapi kota yang mampu menghadirkan kesejahteraan, memberikan pelayanan terbaik, serta memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam proses pembangunan.
Inilah tantangan sekaligus harapan bagi kepemimpinan Alfin–Azhar: membangun kota bukan hanya untuk terlihat maju, tetapi benar-benar membuat masyarakat merasakan kemajuan.