Kerinci - Polemik dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 127 Sungai Tanduk, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, kian memanas. Pasalnya, pascakejadian sembilan siswa yang mengalami pusing, mual, muntah hingga sesak napas, pihak sekolah secara tiba-tiba mengeluarkan sebuah surat klarifikasi yang menyebutkan bahwa gejala tersebut diduga akibat konsumsi minuman kemasan jenis Ale-Ale dan jajanan sejenis sebelum menyantap MBG.
Surat yang ditandatangani oleh empat orang guru dan Kepala Sekolah SDN 127 Sungai Tanduk, Jerizal, tersebut langsung menuai tanda tanya besar. Pasalnya, ketika awak media GardaTerkini.Com dan media Suara Bernas melakukan konfirmasi langsung kepada beberapa siswa yang menjadi korban, jawaban mereka justru bertolak belakang dengan isi surat sekolah.
“Sebelum makan MBG tidak ada sarapan dan tidak jajan apa-apa,” ujar salah satu siswa korban saat ditemui di kediamannya. Keterangan serupa juga disampaikan oleh siswa lain, bahkan cucu dari kepala sekolah sendiri yang turut menjadi korban.
Dalam wawancara terpisah, pihak keluarga menyebutkan bahwa anak tersebut belum mengonsumsi jajanan atau minuman apa pun sebelum menyantap menu MBG di sekolah.
Perbedaan keterangan ini memunculkan dugaan kuat bahwa surat klarifikasi yang dikeluarkan pihak sekolah sarat kepentingan dan berpotensi dibuat untuk melindungi serta menjaga nama baik Dapur SPPG Tika Seno selaku penyedia MBG.
Keanehan lain yang dipertanyakan publik adalah dasar pihak sekolah menyimpulkan penyebab keracunan berasal dari minuman Ale-Ale. Menurut sejumlah pihak, penentuan sebab medis seharusnya menjadi ranah tenaga kesehatan atau pihak Puskesmas, bukan institusi pendidikan yang tidak memiliki kompetensi medis.
“Kalau benar akibat jajanan atau minuman dari luar, seharusnya ada keterangan resmi dari puskesmas, bukan surat dari sekolah,” ujar salah seorang warga.
Lebih jauh, jika memang penyebabnya adalah minuman Ale-Ale, publik mempertanyakan di warung mana anak-anak tersebut membeli minuman itu dan mengapa tidak ada penelusuran serta permintaan pertanggungjawaban kepada pemilik warung.
Ironisnya, dalam fakta lapangan justru pihak MBG Dapur SPPG Tika Seno yang menanggung seluruh biaya pengobatan siswa di Puskesmas Kersik Tuo, bahkan datang langsung ke sekolah untuk melakukan klarifikasi. Hal ini diperkuat dengan foto yang dikirimkan salah satu oknum guru kepada media, memperlihatkan pihak MBG berfoto bersama lima siswa korban serta unsur lain di lingkungan sekolah.
Hasil investigasi GardaTerkini tidak berhenti di SDN 127 Sungai Tanduk. Di beberapa sekolah lain yang juga menerima MBG dari Dapur SPPG Tika Seno, sejumlah PIC sekolah mengungkapkan adanya menu MBG hari Rabu 14/01/2026 berupa soto ayam yang diduga berbau tidak sedap dan basi. Pengakuan tersebut bahkan disertai bukti video rekaman dari oknum guru yang menyebutkan kondisi makanan tidak layak konsumsi.
Fakta ini semakin menguatkan dugaan bahwa penyebab keracunan bukan berasal dari jajanan luar, melainkan dari menu MBG itu sendiri.
Keabsahan dan tujuan surat klarifikasi sekolah juga kian dipertanyakan, apakah ada pihak lain yang mengintervensi untuk menjaga image untuk mendapat sesuatu seperti pujian. Saat awak media menanyakan nama sembilan siswa yang disebut mengonsumsi minuman Ale-Ale, pihak sekolah tidak mampu menyebutkan secara rinci. Bahkan, ketika ditanya surat tersebut ditujukan kepada siapa dan untuk kepentingan apa, pihak sekolah kembali tidak memberikan jawaban yang jelas.
Lebih mencengangkan, Kepala Sekolah Jerizal diketahui tidak berada di sekolah saat kejadian berlangsung. Ia disebut tengah menghadiri acara makan bersama di salah satu taman wisata bersama kepala sekolah lain se-Kayu Aro dalam rangka penyambutan pengawas baru, Kasmir.
Masyarakat dan orang tua siswa berharap pihak sekolah bersikap jujur dan transparan, tidak mengarang narasi yang justru menimbulkan kebingungan publik. Dugaan adanya intervensi dari pihak pengelola MBG pun semakin menguat di tengah masyarakat.
“Ini soal keselamatan anak-anak. Jangan sampai ditutup-tutupi. Masih untung semua anak selamat, kalau sampai ada yang lebih parah, siapa yang bertanggung jawab?” ujar salah satu wali murid dengan nada geram.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pihak terkait, mulai dari pengelola MBG, sekolah, hingga dinas terkait, agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas, kebersihan, dan sistem pengawasan makanan. Transparansi dan kejujuran dinilai menjadi kunci agar Program Makan Bergizi Gratis benar-benar bermanfaat, bukan justru membahayakan generasi penerus bangsa akibat pengelola lalai.