KERINCI,Suarabernas.com – Polemik pelaksanaan event balap motor Asia MX Bupati Kerinci Cup 2026 di kawasan Lahar Dingin, Desa Sungai Rumpun, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, terus bergulir. Setelah sebelumnya ramai disorot karena harga tiket masuk dan tarif parkir yang dinilai mahal, kini keluhan datang dari pengunjung terkait biaya penggunaan toilet umum yang mencapai Rp10.000 sekali masuk.
Informasi mengenai tarif tersebut ramai diperbincangkan di media sosial setelah sejumlah pengunjung mengunggah pengalaman mereka selama menghadiri ajang balap motor tersebut. Tarif yang dipasang secara terbuka di area toilet memicu berbagai reaksi dan kritik dari masyarakat.
Salah seorang pengunjung, Intan, mengaku terkejut dengan biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk menggunakan fasilitas toilet. Melalui unggahan di akun Facebook miliknya, ia menyebut harus merogoh kocek hingga Rp40.000 untuk dua kali menggunakan toilet bersama seorang temannya.
“Kalau tahu begini, lebih baik pakai pempes. Biayanya jadi bertambah banyak,” tulisnya yang kemudian mendapat banyak tanggapan dari warganet.
Keluhan serupa juga bermunculan dari pengunjung lainnya. Banyak yang menilai tarif Rp10.000 per orang terlalu tinggi dan tidak sebanding dengan tarif toilet umum yang biasanya hanya berkisar Rp2.000 hingga Rp5.000.
“Biasanya paling Rp2.000. Ini Rp10.000, yang punya WC bisa langsung jadi orang kaya,” tulis akun Facebook bernama Desi dalam kolom komentar.
Sorotan terhadap tarif toilet ini semakin menambah daftar kritik terhadap penyelenggaraan event yang digadang-gadang menjadi salah satu ajang olahraga otomotif terbesar di Kerinci tersebut. Sebelumnya, sejumlah pengunjung juga mempertanyakan harga tiket masuk dan tarif parkir yang dianggap memberatkan masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, promotor Asia MX Bupati Kerinci Cup 2026, Adi Purnomo, yang juga merupakan anggota DPRD Kabupaten Kerinci, belum memberikan tanggapan terkait berbagai keluhan yang disampaikan masyarakat, baik mengenai tarif toilet, tiket masuk maupun biaya parkir.
Sementara itu, pemerhati pariwisata Kerinci–Sungai Penuh, Ikshan Daraqtoni, menilai persoalan tarif yang dianggap tidak wajar berpotensi menimbulkan citra negatif terhadap sektor pariwisata Kerinci.
Menurutnya, event berskala besar seharusnya tidak hanya berorientasi pada kesuksesan pelaksanaan, tetapi juga memperhatikan kenyamanan dan kepuasan pengunjung.
“Tarif WC Rp10.000 tentu menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Jika tidak dikelola dengan baik, hal-hal seperti ini dapat memengaruhi citra pariwisata Kerinci. Event hiburan seharusnya bisa dinikmati masyarakat luas tanpa dibebani biaya yang berlebihan,” ujarnya.
Masyarakat kini menunggu klarifikasi dari pihak penyelenggara maupun pemerintah daerah terkait dasar penetapan tarif tersebut. Mereka juga berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan event serupa agar ke depan lebih ramah bagi pengunjung serta mampu memberikan dampak positif bagi promosi pariwisata Kerinci.
