Tak Lagi Sekadar Menghafal, Pembelajaran Mendalam Bikin Murid Lebih Aktif dan Antusias

Selasa, 14 Juli 2026 | 15:20:51 WIB

JAKARTA,suarabernas.com - Ruang-ruang kelas perlahan mengalami perubahan. Murid tidak lagi sekadar duduk mendengarkan dan menerima materi, melainkan diajak berdiskusi, bereksplorasi, serta menghubungkan pelajaran dengan pengalaman sehari-hari. Suasana belajar menjadi lebih hidup, lebih dekat dengan dunia anak, dan lebih bermakna.

Perubahan ini mulai dirasakan para guru setelah mengikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial (PM-KKA) yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Salah satu guru yang merasakan langsung dampaknya adalah Tri Oktinawati, guru TKIT SD Insan Madani. Menurutnya, pelatihan PM-KKA membuka cara pandangnya tentang proses belajar mengajar. Baginya, pembelajaran tidak lagi hanya berfokus pada membuat anak aktif, tetapi juga memastikan setiap aktivitas memiliki makna bagi murid.

“Misalnya saya ingin mengenalkan numerasi kepada anak. Kebetulan tema yang sedang dipelajari adalah bayam. Kalau sebelumnya mereka hanya menghitung daun bayam, sekarang kami menghubungkannya dengan tema yang dipelajari. Kami juga memberikan afirmasi bahwa bayam menyehatkan tubuh dan mengandung zat besi,” ujar Tri.

Melalui pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya belajar berhitung, tetapi juga memahami manfaat makanan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Tri menjelaskan, materi untuk murid usia dini dalam PM-KKA berfokus pada pengenalan cara berpikir komputasional, seperti dekomposisi, pengenalan pola, dan abstraksi. Pendekatan ini membantu anak membangun kemampuan berpikir sejak dini tanpa harus bergantung pada komputer atau gawai, sehingga turut mengurangi waktu layar (screen time) anak.

Pengalaman serupa dirasakan Muhammad Jiyad Prawira, guru SDN Batu Ampar 01 Jakarta Timur. Ia menilai pendekatan Pembelajaran Mendalam membuat suasana kelas menjadi lebih interaktif karena materi pelajaran dikaitkan dengan lingkungan dan budaya yang dekat dengan kehidupan murid.

“Sekarang anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi memahami kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Saya menghubungkan budaya lokal dengan matematika maupun pelajaran lain sehingga mereka lebih aktif, antusias, dan mudah memahami pelajaran,” ungkap Jiyad.

Pengalaman Tri dan Jiyad menjadi gambaran bagaimana pendekatan Pembelajaran Mendalam mulai diterapkan dalam praktik pendidikan sehari-hari. Untuk memperluas dampak tersebut, Kemendikdasmen menghadirkan Pelatihan Mandiri PM-KKA agar lebih banyak guru dapat meningkatkan kompetensi secara fleksibel.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan pengembangan dari program yang telah berjalan sejak 2025. Pada 2026, materi dan metode pelatihan disempurnakan agar semakin relevan dengan kebutuhan guru di lapangan.

“Tahun ini ada tambahan modul. Selain pelatihan secara luring melalui KKG, MGMP, MKKS, dan Hari Belajar Guru, kami juga memberi kesempatan seluas-luasnya kepada guru untuk mengikuti pelatihan mandiri,” ujar Nunuk usai peluncuran Pelatihan Mandiri PM-KKA di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Ia menjelaskan, pelatihan tahun ini menggunakan pendekatan Teacher Experimental Training (TET) yang menjadikan sekolah sebagai laboratorium pembelajaran. Melalui metode ini, guru tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga langsung menerapkannya di kelas, kemudian melakukan refleksi dan berbagi praktik baik bersama rekan sejawat melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Menurut Nunuk, implementasi pelatihan juga disesuaikan dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran sehingga diskusi antarguru menjadi lebih fokus dan kontekstual.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Pembelajaran Mendalam menempatkan guru sebagai fasilitator yang aktif mendampingi murid melalui pendekatan 3P, yaitu Presage, Process, dan Product.

“Guru menjadi fasilitator yang tetap terlibat dalam proses pembelajaran. Murid dapat menceritakan pengalamannya, saling berdiskusi, dan membangun engagement dalam proses belajar,” jelas Abdul Mu’ti.

Ia menambahkan bahwa pendekatan Pembelajaran Mendalam akan diterapkan pada seluruh mata pelajaran sesuai karakteristik masing-masing. Karena itu, pelatihan diberikan kepada semua guru agar penerapannya di kelas semakin kontekstual dan memberi dampak nyata bagi pengalaman belajar murid.

Dengan pendekatan baru ini, pembelajaran tidak lagi hanya mengejar penyelesaian materi, tetapi juga menumbuhkan cara berpikir, rasa ingin tahu, dan keterampilan hidup yang dibutuhkan murid di masa depan.(*)

Terkini