JAMBI - Di tengah aktivitas Regu Pemadam Kebakaran (RPK) yang bersiaga menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ada peran lain yang jarang terlihat.
Mereka tidak selalu berada di depan menghadapi api, tetapi memastikan personel yang turun ke lapangan tetap dalam kondisi sehat.
Salah satunya Nuriah. Sejak 2017, ia mendampingi personel RPK PT Wirakarya Sakti (WKS), unit usaha APP Group, dalam berbagai kegiatan pengendalian karhutla di Jambi.
Pekerjaannya sering kali dimulai sebelum personel berangkat ke lapangan. Kondisi kesehatan diperiksa, edukasi diberikan, sementara kebutuhan seperti masker dan vitamin disiapkan untuk membantu menjaga kebugaran selama bertugas.
“Sering kali pekerjaan kami dimulai jauh sebelum pertolongan dibutuhkan. Pemeriksaan kesehatan, edukasi, hingga pemberian masker dan vitamin menjadi bagian dari upaya menjaga personel tetap fit saat bertugas,” ujar Nuriah.
Namun, tugas itu tidak selalu dilakukan dari pos kesehatan. Ketika personel berada di lokasi yang sulit dijangkau, Nuriah dan tim medis juga harus bergerak mendekati lokasi mereka bertugas.
Akses menuju lokasi terkadang harus ditempuh menggunakan sepeda motor maupun kendaraan lapangan. Dalam beberapa kondisi, pendampingan juga berlangsung hingga malam hari, menyesuaikan kebutuhan personel di lapangan.
Bagi Nuriah, situasi seperti itu sudah menjadi bagian dari pekerjaannya. Medan yang tidak mudah dan kondisi yang dapat berubah sewaktu-waktu membuat komunikasi dengan tim pemadam menjadi penting.
“Tim medis membutuhkan dukungan tim lain untuk menjangkau personel. Begitu juga RPK membutuhkan kondisi kesehatan yang baik untuk menjalankan tugas. Karena itu, keselamatan di lapangan menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.
Saat berada di lapangan, tim medis melakukan penanganan sesuai kondisi yang ditemukan, mulai dari pemeriksaan kondisi fisik hingga memberikan pertolongan ketika personel mengalami gangguan kesehatan selama bertugas.
Nuriah mengatakan, ada satu hal yang selalu menjadi perhatiannya setiap kali personel berangkat ke lokasi karhutla. Bukan hanya soal apakah tugas dapat diselesaikan, tetapi juga bagaimana mereka kembali setelah penugasan berakhir.
“Bagi saya, keberhasilan bukan hanya saat tugas selesai, tetapi ketika setiap personel dapat kembali dalam keadaan sehat dan selamat,” ujarnya.
Menurut dia, pekerjaan di lapangan selalu membawa satu pengingat sederhana. “Pada akhirnya, yang paling penting adalah memastikan setiap personel bisa pulang dengan selamat, karena selalu ada keluarga yang menunggu mereka di rumah,” kata Nuriah.
Di tengah upaya pengendalian karhutla, keberadaan tenaga medis menjadi bagian dari aktivitas yang berjalan di belakang para personel RPK.
Perannya mungkin tidak selalu terlihat ketika pemadaman berlangsung, tetapi menjadi salah satu unsur yang memastikan mereka yang bekerja di lapangan tetap mendapatkan perhatian dari sisi kesehatan dan keselamatan.