Normalisasi Sungai Batang Merao Disorot! Warga Pertanyakan Spesifikasi Alat Berat, Diduga Hanya Sekadar Bersihkan Sungai

Rabu, 04 November 2026 | 20:28:28 WIB

KERINCI,Suarabernas.com – Pekerjaan normalisasi Sungai Batang Merao di Kecamatan Depati Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, yang dilaksanakan secara swakelola melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI, kembali menjadi sorotan masyarakat, Selasa (4/11/2026)

Pasalnya, penggunaan alat berat dalam pekerjaan normalisasi sungai dipertanyakan warga. Alat yang diturunkan ke lokasi dinilai belum menunjukkan kapasitas yang memadai untuk mendukung pekerjaan normalisasi sungai secara optimal.

Sejumlah warga menduga pekerjaan di lapangan lebih terlihat seperti pembersihan alur sungai dibandingkan normalisasi yang bertujuan memperbaiki kapasitas aliran, termasuk pengerukan dan pelebaran sungai sesuai kebutuhan teknis.

Herman, salah seorang warga yang meninjau langsung lokasi pekerjaan, mengatakan bahwa sebelum pelaksanaan normalisasi, pihak pelaksana seharusnya melakukan survei menyeluruh terhadap kondisi sungai. Mulai dari lebar alur, kedalaman, kondisi sedimentasi, hingga menentukan jenis dan kapasitas alat berat yang tepat.

"Setiap pekerjaan normalisasi sungai seharusnya diawali dengan survei kondisi lapangan. Jangan sampai alat yang diturunkan tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Kami meminta pihak balai bekerja serius, bukan hanya asal jadi," ujar Herman.

Menurutnya, pemilihan alat berat merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pekerjaan normalisasi. Penggunaan ekskavator harus disesuaikan dengan kondisi medan, kedalaman sungai, lebar alur, serta target pengerukan yang telah direncanakan.

Dalam pekerjaan normalisasi sungai, ekskavator standar kelas PC 200 atau setara dengan kapasitas bucket sekitar 0,8 hingga 1,2 meter kubik umumnya digunakan untuk pengerukan dan penggalian pada area yang dapat dijangkau dari daratan.

Sementara itu, pada lokasi dengan kondisi berlumpur, rawa-rawa, atau aliran sungai yang sulit dijangkau dari tepian, dapat dipertimbangkan penggunaan ekskavator amfibi maupun ekskavator yang ditempatkan di atas ponton, sesuai hasil survei dan perencanaan teknis.

"Kalau alat yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan spesifikasi teknis, tentu pekerjaan bisa lebih maksimal. Namun, kalau melihat kondisi di lapangan sekarang, kami menilai pekerjaan ini lebih menyerupai pembersihan sungai, bukan normalisasi sebagaimana yang diharapkan masyarakat," katanya.

Herman menegaskan, normalisasi Sungai Batang Merao sudah lama dinantikan masyarakat Kecamatan Depati Tujuh. Sungai tersebut diharapkan mampu menampung dan mengalirkan debit air dengan lebih baik, terutama saat musim hujan ketika sejumlah wilayah berpotensi terdampak banjir.

Karena itu, masyarakat berharap pekerjaan yang menggunakan anggaran negara tersebut benar-benar dilaksanakan berdasarkan perencanaan teknis, bukan sekadar mengejar tampilan sungai yang terlihat bersih dan rapi di bagian tepiannya.

"Kami tidak ingin pekerjaan ini hanya terlihat bagus di permukaan, tetapi tidak memberikan manfaat maksimal ketika musim hujan tiba. Normalisasi harus benar-benar menyentuh persoalan sedimentasi, kedalaman dan kapasitas aliran sungai," ungkapnya.

Ia juga meminta BWS Sumatera VI melakukan evaluasi langsung terhadap pelaksanaan pekerjaan, termasuk memastikan kesesuaian jenis alat berat, metode pengerukan, volume pekerjaan, serta spesifikasi teknis yang tercantum dalam dokumen kontrak dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

"Selagi pekerjaan masih berlangsung, kami berharap pihak balai segera turun ke lapangan dan mengevaluasi alat yang digunakan. Turunkan alat sesuai kapasitas dan kondisi sungai agar pengerukan serta pelebaran dapat dikerjakan secara maksimal," tegas Herman.

Perlu Transparansi dan Klarifikasi Balai

Sorotan masyarakat terhadap pekerjaan normalisasi Sungai Batang Merao ini juga menjadi pengingat pentingnya transparansi pelaksanaan proyek yang menggunakan dana APBN.

Untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai perencanaan, publik perlu mengetahui sejumlah aspek penting, di antaranya panjang penanganan sungai, volume pengerukan, target kedalaman dan lebar alur, jenis alat berat yang direncanakan, serta realisasi pekerjaan di lapangan.

Kesesuaian penggunaan alat berat dengan RAB dan spesifikasi teknis juga perlu diperiksa berdasarkan dokumen perencanaan serta kondisi aktual di lokasi. Sebab, penentuan alat tidak hanya bergantung pada ukuran ekskavator, tetapi juga karakteristik sungai dan metode pelaksanaan pekerjaan.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera VI belum memberikan keterangan atau hak jawab terkait keluhan warga mengenai penggunaan alat berat dan pelaksanaan normalisasi Sungai Batang Merao di Kecamatan Depati Tujuh, Kabupaten Kerinci.

Masyarakat berharap pihak balai segera memberikan penjelasan secara terbuka agar pelaksanaan proyek tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan mampu mengurangi risiko banjir di wilayah sekitar sungai.

Terkini