KERINCI,Suarabernas.com – Penurunan debit air Danau Kerinci dalam beberapa pekan terakhir memicu keresahan masyarakat. Kondisi ini berdampak langsung terhadap aktivitas nelayan dan petani yang menggantungkan hidupnya pada kawasan danau tersebut.
Merespons keluhan warga, DPRD Kabupaten Kerinci menggelar hearing bersama pihak PLTA Hidro Merangin Kerinci, Selasa (3/2/2026), guna meminta kejelasan terkait penyebab menyusutnya air Danau Kerinci.
Warga merasakan perubahan kondisi danau secara signifikan. Nelayan mengaku kesulitan melaut akibat permukaan air yang terus surut, sementara petani mengalami gangguan pasokan air untuk sawah dan ladang. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.
LSM Desak Transparansi PLTA
Dalam forum hearing, Ketua LSM Cakrawala Kerinci, Ruslan, menegaskan pentingnya peran strategis Danau Kerinci bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Ia meminta pihak PLTA bersikap terbuka dan transparan terkait aktivitas operasional yang diduga berkaitan dengan penurunan debit air danau.
“Mengeringnya Danau Kerinci sangat berdampak bagi nelayan dan petani. Kami berharap PLTA menyampaikan kondisi sebenarnya secara transparan,” tegas Ruslan.
PLTA: Curah Hujan Rendah Jadi Faktor Utama
Menanggapi hal tersebut, Humas PLTA Hidro Merangin Kerinci, Asroli, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan uji coba turbin pada 1 hingga 15 Januari 2026. Pada periode yang sama, wilayah Kerinci mengalami curah hujan yang relatif rendah.
Menurutnya, minimnya hujan berdampak langsung terhadap pasokan air dari Sungai Batang Merao serta sejumlah sungai penyangga yang bermuara ke Danau Kerinci. Selain itu, rekayasa cuaca di wilayah Sumatera Barat disebut turut memengaruhi pola hujan regional.
“Minimnya curah hujan menyebabkan suplai air ke Danau Kerinci berkurang signifikan. Padahal secara iklim, Kerinci masih berada dalam fase basah hingga awal Februari,” jelas Asroli.
DPRD: Dampak Menyentuh Ekonomi dan Pariwisata
Anggota DPRD Kerinci, Irwandi, menilai persoalan ini tidak hanya berdampak pada sektor perikanan dan pertanian, tetapi juga terhadap perekonomian daerah secara luas.
Ia menegaskan bahwa Danau Kerinci merupakan salah satu destinasi wisata unggulan yang berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Danau Kerinci adalah sumber penghidupan sekaligus aset wisata. Akar persoalannya harus ditelusuri secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Irwandi juga mendorong Pemerintah Kabupaten Kerinci untuk terlibat aktif dengan menghadirkan kajian ilmiah dari para ahli lingkungan dan hidrologi, sehingga penanganan dilakukan berbasis data dan kajian objektif.
DPRD Siap Turun ke Lapangan
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kerinci, Boy Edwar, memastikan DPRD akan mengambil langkah konkret dengan turun langsung ke lapangan.
Sekretariat DPRD diminta segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menjadwalkan peninjauan langsung ke Danau Kerinci serta lokasi operasional PLTA.
“Kami ingin melihat langsung kondisi di lapangan. Setelah itu, akan dirumuskan langkah nyata demi kepentingan masyarakat,” tegas Boy Edwar.
Melalui hearing dan rencana peninjauan tersebut, DPRD Kerinci berharap penyebab utama penyusutan debit air Danau Kerinci dapat terungkap secara jelas serta menghasilkan solusi berkelanjutan bagi nelayan, petani, dan perekonomian daerah. **
