Angkatan 98 Bangga, Dua Sahabat di Usia 46 Tahun Berhasil Raih Gelar Sarjana

Angkatan 98 Bangga, Dua Sahabat di Usia 46 Tahun Berhasil Raih Gelar Sarjana

KERINCI,Suarabernas.com — Usia Bukan Batas Mengejar Mimpi, Dosi Arafiq dan Halapni Raih Gelar Sarjana.

Di tengah kesibukan menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat serta kepala desa, dua putra Kerinci, Dosi Arafiq dan Halapni, akhirnya berhasil menuntaskan pendidikan STIA Sungai Penuh.

Keduanya resmi menyandang gelar Sarjana Administrasi Publik (S.AP) setelah mengikuti prosesi wisuda pada Sabtu (29/8/2026).

Perjalanan menuju toga bukanlah sesuatu yang mudah. Di usia yang telah memasuki 46 tahun, Dosi Arafiq yang aktif sebagai anggota DPRD harus membagi waktu antara tugas sebagai wakil rakyat, keluarga, serta kewajiban akademik.

Hal yang tak jauh berbeda dijalani Halapni. Sebagai Kepala Desa Belui, ia harus menjalankan berbagai tanggung jawab pemerintahan desa, namun tetap berkomitmen menyelesaikan pendidikan hingga tuntas.

Bagi teman-teman seangkatan 98, keberhasilan keduanya menjadi kebanggaan tersendiri. Perjuangan Dosi Arafiq dan Halapni dinilai menjadi bukti bahwa usia dan kesibukan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.

Rekan mereka, Heri Hayamin, menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaan atas keberhasilan tersebut.

«“Bismillah, bersyukur Alhamdulillah. Di usia 46 tahun, saya membuktikan pada diri sendiri bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengejar mimpi,” ungkap Heri Hayamin.»

Ucapan selamat juga disampaikan Likwan. Ia mengaku bangga melihat dua rekannya sesama Angkatan 98 mampu menyelesaikan pendidikan tinggi di tengah kesibukan masing-masing.

«“Kami dari Angkatan 98 mengucapkan selamat atas wisudanya saudara kami Dosi Arafiq dan Halapni. Semoga ilmu yang diraih dapat bermanfaat bagi masyarakat. Sukses selalu buat saudaraku Dosi Arafiq dan Halapni,” ucap Likwan.»

Menurutnya, perjalanan pendidikan yang ditempuh keduanya bukan perkara mudah. Berbagai aktivitas dan tanggung jawab harus dijalankan secara bersamaan, mulai dari keluarga, pekerjaan, hingga kewajiban mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan tugas-tugas akademik.

“Toga ini menjadi saksi bisu perjuangan melawan rasa lelah serta membagi waktu antara keluarga, pekerjaan dan tugas-tugas perkuliahan,” tuturnya.

Dari Kesibukan Desa hingga Toga Wisuda

Sementara itu, Halapni mengaku sempat merasa tidak yakin dapat menyelesaikan pendidikan tersebut. Kesibukannya memimpin pemerintahan Desa Belui membuat proses perkuliahan harus dijalani dengan membagi waktu sebaik mungkin.

Namun, berkat dukungan, doa dan semangat dari keluarga serta teman-teman, perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil.

«“Dengan kesibukan dalam memimpin desa, rasa tak percaya kalau kami akan berhasil menyelesaikan pendidikan ini. Berkat doa kita bersama, akhirnya pendidikan ini dapat kami selesaikan,” ungkap Halapni.»

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh rekan Angkatan 98 yang selama ini memberikan dukungan dan doa.

“Sekali lagi ucapan terima kasih buat kawan-kawan se-Angkatan 98. Semoga kita selalu kompak dan diberikan kesehatan untuk kita bersama,” tutupnya.

Wisuda Dosi Arafiq dan Halapni bukan sekadar seremoni mengenakan toga. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi pesan bahwa kesibukan, pekerjaan, bahkan usia bukanlah alasan untuk berhenti belajar dan mengejar cita-cita.

Bagi Angkatan 98, keberhasilan dua sahabat tersebut menjadi cerita membanggakan: setelah puluhan tahun menjalani kehidupan dengan berbagai tanggung jawab, mereka kembali membuktikan bahwa sebuah impian tetap bisa diwujudkan selama ada kemauan dan perjuangan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index