YOGYAKARTA (Suarabernas) — Nama Kabupaten Indragiri Hilir kembali hadir dalam deretan prestasi mahasiswa di tingkat nasional. Kali ini, kabar membanggakan datang dari M. Ridwan, putra asli Desa Sanglar, Kecamatan Reteh, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, yang berhasil meraih Silver Medal dan Bronze Medal pada ajang NEIRA 3 (National Empowerment, Innovation, Research and Art 3) di Yogyakarta.
Kompetisi yang berlangsung pada 29–30 Agustus 2026 tersebut mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Suntoso Foundation bersama Himpunan Mahasiswa Budaya Hutan dan Universitas Gadjah Mada itu diikuti sekitar 30 perguruan tinggi dengan lebih dari 600 peserta.
"Alhamdulillah, dari 600 perserta, saya bisa meraih medali perunggu dan perak,"kata M Ridwan kepada wartawan, Selasa (1/9/2026).
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab ini berkompetisi pada kategori Essay Presentation. Ia mengangkat sebuah gagasan yang berangkat dari potensi lokal melalui karya berjudul DuriKooki: Sinergi Ekonomi Sirkular Berbasis Limbah Biji Durian untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Wirausaha Hijau yang Berkelanjutan.
Melalui karya tersebut, Ridwan mengembangkan gagasan untuk mengolah biji durian yang selama ini lebih banyak berakhir sebagai limbah menjadi produk cookies. Inovasi itu menggabungkan aspek pemanfaatan limbah, ketahanan pangan, sekaligus peluang ekonomi masyarakat.
"Selama ini biji durian cuma dinilai sebagai bakal bibit saja, kebanyakan berakhir di tong sampah, padahal bisa diolah jadi lebih bermanfaat, menjadi sumber ekonomi masyarakat juga," bebernya
Bagi Ridwan, potensi yang ada di sekitar masyarakat sebenarnya dapat menjadi sumber lahirnya berbagai inovasi apabila dikelola dengan kreativitas dan pengetahuan.
"Banyak peluang inovasi dan kreativitas di sekitar kita,"katanya
Prestasi yang diraih Ridwan memiliki makna tersendiri karena ia tumbuh sebagai anak desa dari keluarga sederhana. Sebagai anak seorang petani, ia terbiasa melihat secara langsung bagaimana kerja keras dan ketekunan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Latar belakang tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk terus menempuh pendidikan dan mencari kesempatan untuk berkembang.
“Saya bangga menjadi putra asli Desa Sanglar dan anak seorang petani. Dari keluarga dan lingkungan desa, saya banyak belajar tentang kerja keras, kesabaran, dan perjuangan. Semua itu menjadi bekal bagi saya untuk terus berusaha dan tidak takut bermimpi,” kata Ridwan.
Keberhasilan mengikuti kompetisi nasional, bagi Ridwan bukan hanya persoalan memperoleh penghargaan. Ada pesan yang ingin ia sampaikan kepada anak-anak muda di daerah, terutama mereka yang berasal dari desa.
“Saya ingin menunjukkan bahwa asal kita dari desa bukan berarti kesempatan kita lebih kecil. Anak petani pun bisa berprestasi dan bersaing dengan siapa saja. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar, berani mencoba, terus berproses, serta tidak mudah menyerah,” ujarnya.
Keberhasilan Ridwan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Desa Sanglar dan Kabupaten Indragiri Hilir. Ia berhasil membawa identitas daerah asalnya dalam sebuah kompetisi yang mempertemukan peserta dari berbagai wilayah Indonesia.
Perjalanan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa karya dan gagasan berkualitas dapat tumbuh dari mana saja. Desa tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan ide-ide yang mampu dibawa ke tingkat nasional.
Ridwan berharap pencapaiannya dapat menjadi pemantik semangat bagi generasi muda Indragiri Hilir agar lebih berani mengambil peluang di bidang pendidikan, penelitian, inovasi, maupun berbagai kompetisi lainnya.
"Saya ingin agar anak-anak muda di desa tidak merasa rendah diri karena kondisi ekonomi ataupun latar belakang keluarga,"harapnya
"Jangan malu menjadi anak desa dan jangan minder karena berasal dari keluarga petani. Kita harus bangga dengan tempat kita berasal. Jadikan kesederhanaan sebagai kekuatan untuk terus bergerak maju. Karena mimpi yang besar bisa tumbuh dari rumah yang sederhana,” imbuhnya.
Prestasi M. Ridwan di Yogyakarta akhirnya menjadi lebih dari sekadar pencapaian pribadi. Silver Medal dan Bronze Medal tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang putra asli Desa Sanglar dalam membawa nama Kabupaten Indragiri Hilir ke panggung nasional.
Dari lingkungan desa dan keluarga petani, Ridwan belajar tentang perjuangan. Dari pendidikan, ia menemukan jalan untuk berkembang. Dan melalui sebuah karya tentang pemanfaatan limbah biji durian, ia berhasil menunjukkan bahwa anak desa juga mampu berkarya dan bersaing di tingkat nasional.***
